y y   y
eTentang KBRIteTentang AljazairteHubungan BilateralteLink Lain


BERITA PARIWISATA

 


Kembali ke halaman sebelumnya

Perkembangan dan Prospek Kerjasama Bilateral
di  Bidang Pariwisata

 

I. LATAR BELAKANG

 1. Hubungan bersahabat kedua negara telah dirintis sejak sebelum kemerdekaan Aljazair tahun 1962. Indonesia banyak memberikan dukungan moral dan logistik terhadap perjuangan kemerdekaan Aljazair.  Salah satu peristiwa terpenting yang menandai dimulainya hubungan kedua negara antara lain adalah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, semangat Dasa Sila Bandung telah memberikan inspirasi besar bagi Aljazair untuk berjuang meraih kemerdekaan, terutama karena KAA Bandung merupakan konperensi internasional pertama yang mengakui organisasi perjuangan kemerdekaan bangsa Aljazair (FLN) sebagai organisasi yang sah memperjuangkan kemerdekaan bangsa Aljazair.  Dukungan moral dan logistik dari Indonesia tersebut selalu dikenang oleh berbagai kalangan pemerintahan, legislatif, dan masyarakat karena kontribusi bangsa Indonesia tsb mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Aljazair.

2. Selain latar belakang historis tersebut di atas merupakan salah satu faktor pendukung yang signifikan yang melandasi hubungan bilateral kedua Negara. Selain itu, latar belakang kesamaan agama yang dianut ke dua bangsa juga merupakan faktor penting yang mendekatkan semangat persahabatan kedua bangsa. Indonesia sebagai negara dengan masyarakat muslim terbesar di dunia telah dikenal luas di berbagai kalangan dan lapisan masyarakat di Aljazair. Dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan pejabat negara Aljazair, selalu disebutkan bahwa hubungan Indonesia – Aljazair layaknya seperti saudara karena latar belakang kesamaan agama.  Di samping itu, hampir pada setiap pertemuan, masyarakat Aljazair seringkali menceritakan pengalaman mereka bertemu dengan masyarakat Indonesia ketika menunaikan ibadah haji. Dinyatakan bahwa masyarakat Aljazair sangat mengagumi akhlak mulia yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia ketika menjalankan ibadah haji. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Aljazair mempunyai pandangan positif terhadap Indonesia.

3. Meskipun telah terbentuk citra positif terhadap Indonesia di Aljazair, namun pada umumnya mereka belum memahami perkembangan di Indonesia pasca KAA Bandung 1955. Oleh karena itu terdapat potensi yang sangat besar bagi kegiatan peningkatan citra Indonesia di Aljazair, khususnya di sektor kebudayaan dan pariwisata.

II. POTENSI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ALJAZAIR

4.  Sebagaimana negara-negara yang terletak di pesisir Laut Mediterania, Aljazair memiliki kekayaan budaya yang diwariskan oleh berbagai peradaban besar di dunia yang pernah menguasai kawasan Afrika Utara, antara lain  kerajaan-kerajaan dari suku asli Afrika Utara (Berber)seperti Mauretania dan Numidia; Romawi; Kekhalifahan / Kesultanan Islam seperti Umayah (Umayyad), Abbasiah (Abbasid) Fatimiah (Fatimid), Al Murabitun (Almoravid), Al Muwahhidun (Almohad), dan Usmaniah (Ottoman); serta peradaban Eropa (Spanyol dan Perancis). Berbagai peradaban ini telah mewariskan peninggalan bersejarah dan sedikit banyak juga telah ikut mempengaruhi pembentukan kebudayaan Aljazair saat ini.

5. Peradaban Islam dan Berber paling dominan mempengaruhi profil dan karakteristik budaya, kesenian, kerajinan tradisional, sastra, dan upacara adat bangsa Aljazair.  Selain itu pengaruh penjajahan Perancis juga cukup memiliki pengaruh dalam pembentukan karakter budaya bangsa Aljazair. Percampuran budaya Islam, Berber, serta sedikit pengaruh Perancis ditambah keadaan alam yang sebagian besar berupa gurun Sahara di bagian selatan dan pantai Mediterania di bagian utara menghasilkan karakter budaya yang eksotik.

6.  Berbagai warisan budaya dan keadaan alam tersebut merupakan potensi pariwisata di Aljazair. Obyek wisata maupun daya tarik wisata andalan Aljazair antara lain :

a. Sahara :

Selain mempunyai keindahan alam gurun Sahara yang menakjubkan, di gurun Sahara tsb juga bermukim suku Touareg yang memiliki budaya eksotik. Di dua lokasi yaitu Hoggar dan Tassili terdapat peninggalan lukisan budaya primitive di gua di tengah gurun Sahara.

Di tepi daerah Sahara terdapat kota-kota dengan bangunan khas gurun antara lain di Ghardaia, Timimoun, Tamanrasset dan salah satu yang ditetapkan sebagai World Cultural Heritage terletak di Wilaya Laghouat berupa pemukiman tradisional di Lembah M’zab yang dibangun pada abad ke-10.

b. Peninggalan Kerajaan – kerajaan Berber dan Romawi:

Sebelum masuknya Romawi, di Aljazair terdapat Kerajaan Numidia dan Kerajaan Mauritania yang saat itu menguasai wilayah Afrika Utara. Pada kurun waktu sekitar tahun 25 SM - 40 M Romawi  berhasil menaklukan kedua kerajaan besar tsb. Ibukota kerajaan-kerajaan Berber tsb oleh Romawi tidak dipindahkan dan hingga saat ini berkembang menjadi kota besar. Ibukota Mauritania: Iol, pada masa Romawi telah berganti nama menjadi Caesaria, sekarang menjadi Chercell (60 km dari Alger). Ibukota Numidia: Cirta, pada masa Ottoman berkuasa di Aljazair, namanya ganti menjadi Constantine dan hingga saat ini nama tsb masih digunakan.

Di Aljazair terdapat 3 lokasi terbesar bangunan arsitektur peninggalan Romawi, yaitu di Tipasa-Chercell (75 km dari Alger), Djemilla (Wilaya Setif), dan Timgad (Wilaya Constantine). Semua daerah peninggalan situs Romawi tsb telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Cultural Heritage.

Selain itu juga terdapat peninggalan Kerajaan Berber berupa makam Cleopatra-Selene (permaisuri Raja Mauritania yang terakhir, Juba II) dan makam Masinissa (Raja Numidia yang pertama).

c. Peninggalan Kebudayaan Islam :

Sejak meluasnya Agama Islam di Aljazair pada Abad ke-7, hingga saat ini Islam tidak hanya menjadi agama resmi negara di Aljazair, namun telah mengakar dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Di antara peninggalan Islam yang menjadi obyek wisata andalan adalah:

Alger:
Casbah, merupakan daerah pemukiman peninggalan Osmaniah, di dalamnya terdapat Mesjid Ketchaoua dan Citadel (casbah juga merupakan World Cultural Heritage), bekas Istana masa Osmaniah, dan banyak sisa-sisa peninggalan Osmaniah lainnya.

Tlemcen :
Mesjid Agung Tlemcen (dibangun masa Al Murabitun), Reruntuhan peninggalan masa setelah Al Muwahhidun (Kerajaan Zianid), dan Makam Sidi Boumediene.

M’sila :
Bangunan gedung peninggalan Emirat Hammadid (sekitar tahun 1000-1050) telah ditetapkan juga sebagai World Cultural Heritage.

Di kota-kota besar lain seperti Oran, Constantine dan Annaba juga dapat ditemukan pemukiman dan Mesjid yang di bangun pada masa Osmaniah.

d. Peninggalan Kebudayaan Eropa

Di kota-kota besar bagian utara Aljazair, bangunan dengan arsitektur klasik Eropa khas peninggalan Perancis sangat mendominasi bangunan di pusat kota-kota besar yang hingga saat ini masih digunakan, seperti gedung opera, gereja, gedung kantor pemerintahan, dll. Di Aljazair  terdapat 3 buah Katedral Besar yang berada di 3 kota besar, yaitu Notre Dame d’Afrique di Alger, Santa Cruz di Oran, Saint Augustine  di Annaba. Santo Agustinus, filsuf Kristen terkemuka asal daerah Kabilie telah menyebarkan agama Kristen di Annaba, ketika itu masih bernama Hippo. Oleh karena itu Santo Agustinus juga sering disebut Augustine of Hippo.

Keindahan bangunan yang dipengaruhi oleh arsitektur Eropa dan Islam yang tersebar di berbagai kota di Aljazair telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kota-kota besar di Aljazair.

III. PEMBANGUNAN SEKTOR PARIWISATA ALJAZAIR

7. Saat ini Aljazair tengah membangun infrastruktur di seluruh sektor secara besar-besaran termasuk diantaranya sektor pariwisata yang masih sangat tertinggal. Menurut laporan Menteri Pariwisata Aljazair dalam laporan tanggal 28 Januari 2007, penerimaan dari sektor pariwisata tahun 2006 masih relatif rendah, baru mencapai US$ 200 juta atau 20% dari total pendapatan non-migas. Namun hasil tsb merupakan peningkatan dibandingkan penerimaan tahun 2004 yang hanya US$ 178 juta. Jumlah wisatawan asing di Aljazair menunjukkan perkembangan yang signifikan terutama pada tahun-tahun terakhir ini dibandingkan periode tahun 90-an.

8. Jumlah kedatangan wisatawan internasional (international tourist arrivals) di Aljazair pada tahun 2005 tercatat sebanyak 1.443.000 orang dan pada tahun 2006 tercatat sebanyak 1.637.582 orang.  Peningkatan tsb antara lain karena situasi keamanan di Aljazair telah membaik dan Pemerintah juga telah meningkatkan anggaran pembangunan sektor pariwisata yang  sejak tahun 2006 mendapatkan dana sebesar US$ 16 milyar. Anggaran tsb  digunakan untuk mendanai berbagai proyek pembangunan sarana pendukung kepariwisataan antara lain bandar udara dan pelabuhan laut.

9. Pemerintah Aljazair mengharapkan dapat menerima pariwisata manca negara  sebanyak 4 juta orang pada tahun 2015 dan dapat menerima pandapatan sebesar US$ 1 milyar. Kapasitas yang dimiliki adalah 60 hotel yang dikelola olah negara dan 165 hotel swasta dan umum. Namun hotel-hotel tsb sudah banyak yang tidak layak dan pelayanannya tidak memenuhi standar internasional. Pemerintah juga telah melakukan operasi perbaikan sektor perhotelan dan telah menginstruksikan untuk menutup 35 hotel di Ibukota Alger saja karena tidak memenuhi persyaratan. Pemerintah juga akan meningkatkan pelatihan bagi para operator pariwisata.

10.  Pembangunan sektor pariwisata ini juga dimaksudkan untuk menarik wisatawan domestik. Karakteristik wisatawan domestik Aljazair sebagian besar memilih jenis wisata pantai dan dilakukan pada musim panas (bulan Juni, Juli, dan Agustus). Wisatawan domestik yang berada pada strata sosial menengah keatas umumnya tidak puas dengan tujuan wisata di Aljazair karena belum memiliki fasilitas yang baik, sehingga memilih untuk berlibur ke luar negeri terutama ke Tunisia dan Maroko. Spanyol dan Perancis juga merupakan tujuan wisata yang cukup popular di kalangan masyarakat Aljazair.

11. Aljazair memiliki pantai dari Timur ke Barat sepanjang 1.200 km dan untuk musim panas tahun 2007 tercatat sebanyak 313 pantai yang diperbolehkan untuk berenang dari sejumlah 529 pantai dan jumlahnya akan terus ditambah apabila telah memenuhi kebersihan. Sedangkan jumlah kawasan pantai yang disewakan dan dikelola oleh pengusaha swasta sebanyak 142 pantai. Diharapkan untuk musim panas tahun ini dapat merekrut tenaga kerja sebanyak 21.242 orang. Pemerintah juga telah mengerahkan tenaga keamanan sebanyak 16.000 orang polisi dan anggota Garda Nasional serta petugas Perlindungan Sipil (Protection Civile) yang terlatih dan diperlengkapi dengan sarana SAR dan ambulans untuk mendukung wisata pantai.

 IV. PENINGKATAN KERJASAMA PARIWISATA RI-ALJAZAIR

12. Kerjasama bilateral sektor Pariwisata RI-Aljazair telah memiliki dasar rujukan berupa “Memorandum Saling Pemahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Aljazair tentang Kerjasama Pariwisata”.  Dalam MoU tersebut ditetapkan mengenai tujuan utama dari kerjasama pariwisata RI-Aljazair, ruang lingkup dan langkah-langkah implementasi kerjasama.

13. Dalam rangka mewujudkan kerjasama yang telah diamanatkan oleh MoU tsb, dan dengan mempertimbangkan segala potensi dan hambatan dalam sektor pariwisata yang dimiliki oleh kedua negara, dapat dijajagi berbagai bentuk program kerjasama antara RI – Aljazair, antara lain:

a. Program kerjasama pendidikan kepariwisataan;

b. Program kerjasama antar pelaku industri wisata, mengingat tujuan wisata memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dapat “dijual” kepada pasar wisatawan di masing-masing negara;

c. Program kerjasama dalam partisipasi pada penyelenggaraan pameran pariwisata di masing-masing negara;

d. Pertukaran informasi berupa regulasi dan data-data kepariwisataan lainnya;

e. Pembentukan Working Group dalam rangka mewujudkan berbagai program kerjasama di atas.

Kembali ke halaman utama......
Conception  |  Mentions légales  | Nous contacter© 2008 Ambassade d'Indonésie en Algérie,Tous droits réservés.