
INDONESIA HADIRI KONPERENSI LUAR BIASA OPEC KE-151
ORAN, ALJAZAIR, 17 DESEMBER 2008
1. Konperensi Luar Biasa (Extraordinary Conference) ke-151 OPEC berlangsung di kota Oran, Aljazair pada tanggal 17 Desember 2008 diketuai oleh Dr. Chakib Khelil, Menteri Energi & Mineral Aljazair & Presiden OPEC didampingi oleh Sekjen OPEC Mr. Abdalla Salem El-Badri. Konperensi tersebut merupakan Konperensi terkahir di bawah Presiden OPEC periode Januari – Desember 2008 Dr. Chakib Khelil karena pada bulan Januari 2009 Presiden OPEC berganti ke Mr. Jose Maria Botelho de Vasconcelos, Menteri Perminyakan Angola (bergabung ke OPEC tahun 2007).
2. Konperensi dihadiri oleh 13 Negara anggota OPEC, yaitu Mr. Jose Maria Botelho de Vasconcelos dari Angola; Mr. Derlis Palacios dari Ecuador; Mr. Gholamhossein Nozari dari Iran; Dr. Hussain Al-Shahristani dari Irak; Mr. Mohammed Abdullah Al-Aleem dari Kuwait; Dr. Shokri M. Ghanem dari Libya; Mr. Odein Ajumogobia dari Nigeria; Mr. Abdullah Bin Hamad Al Attiyah dari Qatar; Mr. Ali I. Naimi dari Saudi Arabia; Mr. Mohammed Bin Dhaen Al-Hamli dari Emirat Arab; dan Mr. Rafel Ramirez dari Venezuela.
3. Delegasi Indonesia diketuai oleh Duta Besar RI di Alger, Yuli Mumpuni Widarso, mewakili Menteri ESDM Bapak Purnomo Yosgiantoro. Bagi Indonesia, Konperensi tersebut merupakan partisipasi yang terakhir sebagai anggota penuh karena terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009 keanggotaannya akan “temporary suspended’ karena saat ini Indonesia bukan lagi negara pengekspor minyak bahkan net importing country.
4. Selain itu hadir pula para Menteri Negara-negara Observer OPEC, yaitu Mr. Natig Aliyev dari Azerbaijan yang baru tahun 2008 bergabung; Mr. Mohammed bin Hamad Al Rumhi dari Oman; Mr. Igor Setchin dari Rusia dan Mr. Sufian Al-Alao dari Syria.
5. Pada acara pembukaan, Ketua Konperensi, Dr. Chakib Khelil antara lain menyatakan bahwa situasi pasar minyak internasional sangat memprihatinkan dengan semakin menurunnya harga minyak yang antara lain disebabkan oleh menurunnya permintaan hingga tingkat di bawah perkiraan (lower than anticipated) dimana situasi ini juga menimbulkan over supply di pasar yang semakin mempercepat penurunan harga minyak. Para angora OPEC menilai penting Konperensi tersebut karena OPEC mempunyai komitmen terhadap stabilitas pasar dan kelancaran supply.
6. Presiden Aljazair Abdelazia Bouteflikatelah menggunakan kesempatan Konperensi OPEC terakhir di bawah kepemimpinan Aljazair tersebut untuk menyampaikan keynote speech yang antara lain menyatakan bahwa OPEC telah berpengalaman dalam menghadapi situasi sulit seperti saat ini dimana harga minyak berfluktuasi dalam tempo yang sangat cepat sehingga diperlukan kearifan para anggotanya dalam meresponse kecederungan pasar yang negative. Pihaknya yakin bahwa OPEC akan kembali dapat menemukan jalan keluar masalah tersebut. Selain itu Presiden Bouteflika juga menekankan kembali perlunya solidaritas antar anggota dan pemerkuatan prinsip-prinsip serta komitmen OPEC sebagaimana dituangkan dalam Deklarasi KTT Riaydh tahun 2007.
7. Dalam Konperensi ini telah diperkenalkan format baru pertemuan yakni informal Breakfast Meeting yang sebelumnya belum pernah diadakan dalam Konperensi OPEC. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para Ketua Delegasi anggota OPEC dan Observer. Setelah itu, Konperensi berlangsung sesuai dengan format Konperensi OPEC, yaitu Opening Session yang terbuka bagi pers; dilanjutkan dengan Plenary Session (open for press) yang dihadiri oleh semua Delegasi anggota OPEC dan Observer; dan Clossed Session yang hanya dihadiri oleh para Ketua Delegasi Anggota OPEC.
8. Mengingat Konperensi ini merupakan partisipasi Indonesia yang terakhir sebagai anggota penuh OPEC, maka Menteri ESDM RI telah menyampaikan pidato perpisahan yang dibacakan oleh Dubes RI di Alger pada pertemuan Clossed Session. Inti pidato perpisahannya antara lain menyampaikan penghargaan dan terima kasih Indonesia kepada negara-negara anggota lainnya dan Sekretariat OPEC yang selama ini telah bekerjasama dengan Indonesia. Mengenai paska keanggotaan Indonesia dalam OPEC, Menteri ESDM menawarkan kerjasama kepada OPEC seperti di bidang saling tukar informasi dan pengetahuan di bidang manajemen perminyakan. Naskah pidato dapat dilihat di web site KBRI Alger www.indonesia.dz.org.(naskah pidato dalam format pdf)
9. Presiden OPEC / Ketua Konperensi atas nama para anggota OPEC dalam kesempatan tersebut menyatakan penghargaan dan terima kasih kepada Indonesia yang sejak menjadi anggota OPEC pada tahun 1962 sangat aktif terlibat dalam pengembangan OPEC. OPEC mengharapkan Indonesia dapat bergabung kembali menjadi anggota penuh mengingat partisipasi Indonesia dalam OPEC sangat konstruktif dan substantive, terutama inisiatif Indonesia dalam memajukan dialog dengan negar-negara sesame eksportir tetapi Non-OPEC dan negara-negara konsumen. Mereka juga yakin bahwa meskipun Indonesia mulai tahun 2009 bukan anggota penuh OPEC diharapkan kerjasama dengan negara-negara anggota OPEC dapat terus dipelihara.
10. Dalam upaya menghindari terus merosotnya harga minyak di pasar, Konperensi telah menyepakati pemotongan produksi negara-negara anggota OPEC sejumlah 2,2 juta barrel / hari terhitung mulai tanggal 1 Januari 2008, menambahkan kotmen para anggota OPEC sejak pemotongan bulan September 2007 (500.000 barrel / hari) dan bulan Oktober 2007 (1,5 juta barrel / hari).
11. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia berkepentingan terhadap harga minyak yang stabil. Namun di sisi lain, sebagai negara berkembang yang sedang memerlukan investor untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Indonesia juga berkepentingan terhadap harga yang rasional karena harga minyak yang terlalu rendah tidak menarik bagi investor pengolahan minyak. Alger, 17 Desember 2008 |