E. Masalah dalam Meningkatkan Volume Ekspor Indonesia ke Aljazair
1. Sistim Transaksi Dagang
Walaupun sudah banyak pengusaha Aljazair yang melakukan transaksi dagang dengan menggunakan sistim L/C, namun hal tersebut dilakukan dengan menggunakan Bank asing karena regulasi perbankan Aljazair belum menerapkan sistim pembayaran dimuka (payment in advance) sebelum barang tiba di pelabuhan Aljazair. Hal ini disebabkan oleh kebijakan keuangan Pemerintah Aljazair yang membatasi mata uang Dinar Aljazair (DZD) ke luar wilayah Aljazair. Kalangan pebisnis menengah ke atas di Aljazair pada umumnya menggunakan Bank asing (biasanya Bank di Perancis) untuk transaksi pembayaran dengan sistem L/C. Tetapi pebisnis menengah ke bawah pada umumnya masih menggunakan sistim pembayaran yang konvensional yaitu secara tunai ("tebus dokumen") setelah barang tiba di pelabuhan Aljazair.
Sistim ini menyulitkan para eksportir di Indonesia yang merasa tidak mendapatkan jaminan atau kepastian pembayaran ketika barang tiba di Aljazair karena perubahan harga barang selama di perjalanan, terutama jika harga naik. Apalagi komoditi yang dibeli dari Indonesia pada umumnya adalah komoditi hasil pertanian dan kehutanan seperti kopi, teh dan kayu yang harganya sangat fluktuatif karena mengikuti harga di bursa pasar (stock) internasional.
2. Transaksi dagang berdasarkan hubungan tradisional
Pengusaha Aljazair lebih senang mengimpor barang melalui mitra dagang tradisionalnya di Perancis (sebagian besar mempunyai hubungan keluarga), Italia, Jerman dan Spanyol. Karena melalui pihak ketiga, akibatnya harga barang Indonesia di pasar Aljazair jadi lebih mahal dan kualitasnya lebih rendah karena yang kualitasnya lebih baik sudah diseleksi dan masuk ke pasar negara ketiga.
Hal ini juga disebabkan oleh faktor kebiasaan dimana pebisnis Aljazair sudah terbiasa berbisnis dengan pebisnis Perancis, Italia, Jerman dan Spanyol yang secara geografi mempunyai pelabuhan yang dekat dengan Aljazair. Sebagai mitra dagang tradisional, pebisnis dari negara-negara tersebut juga sangat memahami seluk beluk administrasi prosedur kepabeanan Aljazair yang masih konvensional.
3. Kurangnya perhatian pengusaha Indonesia terhadap potensi Aljazair
Hal ini tercermin dalam sedikitnya jumlah pelaku usaha Indonesia yang melakukan observasi pasar secara langsung ke Aljazair, meninjau atau mengikuti pameran dagang di Aljazair. Mereka juga sangat jarang memanfaatkan keberadaan KBRI Alger untuk mendapatkan informasi guna menembus pasar Aljazair.
4. Di Aljazair tidak terdapat Asosiasi Importir Komoditi
Hal ini juga merupakan salah satu kendala khususnya bagi pengusaha Indonesia yang ingin mengadakan kontak dengan kalangan impotir komoditi tertentu. Demikian pula bagi KBRI Alger dalam mencari kontak untuk membahas upaya-upaya bersama dalam meningkatkan volume ekspor komoditi tertentu ke Aljazair. Semua kontak bisnis hanya dapat dilakukan dengan KADIN Aljazair atau asosiasi para pengusaha Aljazair.
5. Kendala Bahasa
Seluruh aktifitas usaha di Aljazair menggunakan bahasa Perancis dan Arab termasuk penerbitan dokumen dan publikasi resmi. Bahasa Inggris belum banyak digunakan kalangan pebisnis Aljazair.
6. Kelangkaan informasi tentang potensi ekonomi Aljazair dan Indonesia
Terbatasnya informasi mengenai potensi ekonomi Aljazair di Indonesia menjadikan para pelaku bisnis di Indonesia kurang memahami potensi pasar Aljazair. Bahan informasi dalam bentuk brosur atau pamflet sangat terbatas. Demikian pula, informasi mengenai potensi ekspor Indonesia di kalangan importir Aljazair juga masih terbatas. KBRI Alger telah berusaha memasukkan informasi dimaksud ke dalam web site KBRI yang dapat membantu kalangan pebisnis Aljazair dan Indonesia untuk lebih memahami potensi ekonomi kedua negara.
7. Transportasi
Dewasa ini kondisi geografis sudah bukan merupakan kendala jika diantara kedua negara terdapat transportasi langsung. Tetapi hingga saat ini belum ada perusahaan pelayaran atau maskapai penerbangan yang membuka jalur langsung Indonesia – Aljazair sehingga pengiriman barang dari Indonesia ke Aljazair selalu melalui Eropa (Perancis, Spanyol, Portugal) yang memakan waktu sekitar 30 hari dengan kapal laut atau 4 hari dengan kapal udara.
IV. Upaya dalam Meningkatkan Volume Ekspor Indonesia ke Aljazair
A. Promosi Dagang:
1. Pendekatan kepada Pemerintah Aljazair:
KBRI Alger telah mengadakan pendekatan kepada Pemerintah Aljazair khususnya yang menangani masalah kerjasama perdagangan RI – Aljazair, a.l. Kemlu, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perikanan, dan KADIN Aljazair.
2. Temu Bisnis:
KBRI Alger bekerjasama dengan Departemen Perdagangan dan KADIN Aljazair telah melakukan beberapa kegiatan promosi dagang a.l. dalam bentuk business lunch dengan kalangan pengusaha Aljazair khususnya importir produk-produk komoditi Indonesia dan roadshow ke beberapa kota besar di luar Alger.
3. Pameran Dagang:
KBRI Alger selalu mengikuti pameran dagang tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Aljazair, a.l. Pameran UKM Tradisional setiap bulan Maret dan Pameran Internasional Alger setiap bulan Juni. Selain kedua pameran tersebut, masih banyak pamerand agang yang diadakan di Aljazair seperti pameran mobil, mebel, bahan bangunan, dlsb. Tetapi hingga saat ini kalangan eksportir Indonesia belum memanfaatkan ajang tersebut untuk memamerkan produk mereka.
4. Promosi di Media Massa:
KBRI Alger juga mengadakan promosi melalui wawancara dengan media setempat khususnya yang mempunyai oplah cukup besar dan beredar tidak hanya di Aljazair tetapi juga di luar Aljazair seperti El Khabar, Ech Chorouk, El Watan, La Tribune, Libérte dan La Quotidien d'Oran.
B. Misi Dagang:
KBRI Alger pernah bekerjasama dengan BPEN dalam mensponsori partisipasi kalangan eksportir Indonesia dalam Pameran Internasional Alger. Tetapi sejak dibukanya KBRI Pretoria, kerjasama tidak dilajutkan lagi karena kebijakan baru BPEN yang mengalihkan perhatian ke pasar di Afrika Selatan.
C. Hasil sementara kegiatan tahun 2008 :
1. Partisipasi Indonesia dalam Pameran UKM Internasional Aljazair (Salon International d’Artisanat Algérie), Maret 2008:
KBRI Alger telah membuka stand yang memamerkan produk perhiasan dari Nahdi Jewelry, Jakarta. Perhiasan Indonesia sangat menarik minat masyarakat Aljazair karena rancangannya memadukan rancangan tradisional Indonesia, modern dan tradisional Afrika.
Beberapa pengusaha Aljazair telah memesan produk perhiasaan perak Indonesia. Selain itu seorang fashion designer dari Aljazair juga tertarik pada produk kulit reptile untuk busana rancangannya dan telah memesan produk tersebut.
2. Partisipasi Indonesia dalam Pameran Internasional Alger (Foire International d’Alger), Juni 2008:
Berdasarkan pengalaman selama Pameran UKM Aljazair Maret 2008 dimana cukup banyak permintaan terhadap produk perhiasan Indonesia, maka pada Pameran Interansional Alger 2008 KBRI Alger bekerjasama dengan Departemen Perindustrian (Ditjen IKM) telah membuka stand yang diisi oleh beberapa pengusaha perhiasan Indonesia. Selain itu, bekerjasama dengan Kementerian Negara Koperasi & UKM, telah berpartisipasi pula beberapa pengusaha kerajinan dan asesori (tas, garment, batik, dll) serta Dinas Perdagangan Prop. Sumsel dan Sumut yang memperkenalkan kopi, teh, canned seafood, kayu & plywood.
Terdapat cukup banyak pengusaha terkemuka Aljazair yang mengunjungi dan berbelanja perhiasan di stand Indonesia serta melakukan pembicaraan bisnis. Selama berlangsungnya Pameran, beberapa inquiries yang diterima adalah mengenai kopi, plywood, seafood, agribisnis, CPO, besi, textile, garment, paper products, soap noodles, tuna kaleng, keramik dan material bangunan lainnya, dll.
Selain memamerkan produk, stand Indonesia juga mempromosikan PPE 2008. Selama berlangsungnya Pameran dan hingga tanggal 15 September 2008 telah mendaftar ke KBRI Alger 37 perusahaan Aljazair yang akan meninjau PPE 2008. Selain itu, Presiden KADIN Aljazair juga akan meninjau PPE, mengadakan pertemuan dengan pejabat Depdag RI dan Ketua KADIN Indonesia Komite Timur Tengah & OKI untuk membahas langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi RI – Aljazair termasuk implementasi MoU KADIN Aljazair – KADIN Indonesia Komite Timur Tengah.
3. Kegiatan Business Lunch (April 2008) dan Business Dinner (Juni & Juli 2008) di Alger dan Trade Expo Indonesia Roadshow (Agustus 2008) ke Tlencem dan Oran (Agustus 2008):
Kegiatan bisnis tersebut dilakukan bekerjasama dengan KADIN Aljazair dan telah berhasil menggugah para pengusaha Aljazair untuk lebih mengenal potensi ekspor Indonesia. Hal tersebut terlihat pada meningkatnya keinginan kalangan pengusaha Aljazair untuk berbisnis dengan mitra dari Indonesia dan jumlah pengusaha Aljazair yang akan meninjau PPE 2008. Jumlah 37 perusahaan tersebut di atas masih akan bertambah mengingat beberapa diantara mereka akan ke Indonesia dengan menggunakan fasilitas visa on arrival.
4. Promosi melalui media massa Aljazair:
Telah mengadakan wawancara dengan media setempat dan dimuat di beberapa harian Aljazair, yakni El Watan (5 April); El Khabar (16 April); El Moujahid (16 April); Libérte (5 Agustus 2008); La Quotidien d'Oran (6 Agustus 2008); dan La Tribune (11 Agustus 2008); El Moustakbel (26 Agustus). KBRI Alger juga memuat iklan tentang PPE 2008 di harian La Tribune edisi 11 & 12 Agustus 2008.
Promosi melalui media massa tersebut hasilnya sangat efektif, terlihat pada respons kalangan pengusaha Aljazair yang menyatakan minat mereka untuk mengimpor produk dari Indonesia dan akan meninjau PPE 2008.
D. Hasil sementara kegiatan tahun 2009 :
1. Partisipasi Indonesia dalam Pameran Internasional Alger (Foire International d’Alger), Mei-Juni 2009:
Pameran Internasional Alger ke-42 (42ième Foire Internationale d'Alger FIA42) telah berlangsung di Palais des Expositions SAFEX Alger pada tgl. 30 Mei - 4 Juni 2009, dibuka secara resmi oleh Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika dan diikuti oleh perusahaan Aljazair (1300) dan negara asing (36) serta perusahaan swasta asing (68).
Demikian pula, dibandingkan dengan FIA-41 tahun 2008, pada tahun ini tidak terdapat Country Guest of Honor dan tidak terdapat pejabat tinggi asing yang hadir pada acara pembukaan. Beberapa tamu asing yang mengunjungi pameran antara lain Ketua & Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid dan Dr. BRA Mooryati Soedibyo.
KBRI Alger telah membuka paviliun Indonesia yang menghadirkan 9 perusahaan yaitu:
a. PT. SUCOFINDO
b. PT. WIJAYA KARYA
c. PT. DUTA GRAHA INDAH Tbk.
d. PT. PERTAMINA
e. PT. MUSTIKA RATU
f. PT. INKOR BOLA PASIFIC
g. PT. MULTI STRADA ARAH SARANA
h. PT. HASIL TIMBER
i. PT. SARI MAKMUR
Selama berlangsungnya pameran terlihat cukup banyak pengusaha Aljazair yang berkujung ke Paviliun Indonesia dan mengadakan pembicaraan bisnis. Mereka juga mengundang pengusaha Indonesia untuk berkunjung ke kantor. Transaksi di Paviliun Indonesia yang tercatat secara keseluhuran mencapai USD 444.600,00. Nilai tsb belum termasuk transaksi kopi, kosmetik, jasa manajemen dan konstruksi yang masih akan ditindaklanjuti dalam pertemuan berikutnya di Indoneisa dalam kesempatan mengunjungi TEI 2009.