y y   y
eKBRI AlgerteTentang AljazairteHubungan BilateralteLink Lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kembali ke Halaman Utamali ke halaman utama

Selasa, 02 / 02 / 2010

BISNIS INDONESIA

 

Membuka pasar Aljazair dengan gaya koboi

 

Wartawan Bjsnis Chamdan Purwoko pekan lalu mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Alger, Aljazair untuk meninjau perkembangan ekonomi negara di Afrika Utara tersebut. Berikut laporannya
Saya cukup tertegun saat menghadiri jamuan makan siang dengan Kamar Dagang dan Industri Aljazair di Hotel Hilton, Alger, Ibu Kota Aljazair pekan lalu. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI (KBRI) tersebut, dipaparkan tentang potensi ekspor Indonesia yang begitu besar ke negara bekas jajahan Prancis ini.

Potensi besar ini terlihat dari jumlah penduduknya yang mencapai 36 juta jiwa-terbesar kedua di Afrika-dengan pendapatan per kapita USS7.200 serta cadangan devisa dan produk domestik bruto (PDB) pada 2009 masing-masing US$1441,1 miliar dan US$242,1 miliar.

Potensi pasar juga terlihat dari antusiasme pengusaha setempat yang begitu bersemangat mencari mitra dagang, terutama pro-dusen/pabrikan, sebagai pemasok bahari baku dan barang jadi. Mereka juga agresif menanyakan berbagai aturan ekspor-impor yang berlaku di Indonesia termasuk meminta bantuan KBRI untuk menjembatani problem impor yang dialaminya.

Sejak dikeluarkan UU Kerukunan Sipil pada 1999 sekaligus mengakhiri perang sipil yang sempat berkecamuk, Pemerintah Aljazair terus mengembangan industrinya dan menarik investasi. Pada tahun lalu, negara dengan ekspor utama minyak dan gas bumi ini meraup nilai investasi sekitar US$235 miliar dan terus meningkat setiap tahun.

"Potensi ekspor nonmigas Indonesia ke Aljazair sebenarnya bisa mencapai ratusan juta dolar AS. Sayangnya pengusaha Indonesia tampaknya belum serius menggarap pasar di sini [Aljazair)," ujar M. Kheloufi, President National of Association Generale des Entrepreneurs Algeriens, dalam pertemuan itu.

Menurut dia, komoditas yang paling dibutuhkan pengusaha Aljazair antara lain minyak dan lemak nabati, besi dan baja, kayu dan produk kayu (furnitur dan kayu lapis), kopi, teh, rempah-rempah dan mesin pemanas air.
Selain itu, produk elektronik, dan benang sintetis, aluminium dan produk aluminium, produk kimia dan plastik, farmasi, kertas, makanan siap saji, alas kaki dan tembakau, juga sangat diminati.

Namun, kendati potensi pasarnya besar, data statistik Kementerian Perdagangan menunjukkan dalam 5 tahun terakhir total nilai ekspor Indonesia ke Aljazair temyata sangat kecil. Angka paling tinggi hanya sekitar US$322,706 (pada 2008). Indonesia hanya tercatat dalam urutan ke-27 sebagai negara pemasok barang bagi Aljazair. Inilah yang membuat saya tertegun dan heran.

Sepanjang 5 tahun terakhir total nilai perdagangan Indone-sia-Aljazair juga sangat rendah. Angka paling tinggi tercatat pada 2008 yakni hanya senilai US$431,831. Dalam neraca perdagangan kedua negara, Indonesia mengalami surplus di sektor nonmigas, tetapi mengalami defisit untuk produk migas karena Indonesia mengimpor minyak sekitar 300.000 barel per hari.

Saat berbincang lebih jauh dengan pengusaha setempat, barulah keheranan saya terjawab. Mereka mengungkapkan sebagian besar impor Aljazair dari Indonesia dilakukan melalui negara lain, terutama negara-negara di Uni Eropa seperti Spanyol, Jerman dan Prancis. Fakta ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa statistik ekspor Indonesia ke Aljazair begitu rendah.

Guettouche Cherif, anggota Dewan Nasional Ekonomi Sosial Aljazair mengungkapkan banyak pengusaha lokal yang mengimpor kertas plastik dari Eropa dan temyata pada kemasannya tertera Made in Indonesia.Begitu pula untuk biji kopi pada karungnya tertera Robusta Coffee Indonesia. Sebagian besar biji kopi tersebut diimpor melalui perusahaan dagang internasional yakni Olam. Saat berkunjung ke pabrik kopi bubuk Africafe di Tlencem, saya melihat tumpukan karung kopi robusta asal Indonesia di gudang.

Karena itu, lanjut Cherif, importir di Aljazair kini mulai berpikir untuk mengimpor langsung dari Indonesia sehingga harganya tentu lebih murah dibandingkan dengan melalui perantara perdagangan. "Saya ingin sekali membeli kertas dari Indonesia karena tentunya harganya lebih murah dibandingkan lewat trader Eropa. Saya berharap bisa menemukan produsen kertas di Indonesia dan memulai berbisnis secara langsung dengan mereka," ujarnya.

Gaya koboi

Melihat potensi pasar yang cukup besar di Aljazair, Duta Besar RI Yuli Mumpuni Widarso tidak tinggal diam. Dengan agresif dia mendekati pengusaha lokal dan tidak segan-segan menelepon langsung pengurus Kadin Aljazair dan cabang-cabangnya serta bertemu langsung dengan pengusaha setempat. Sejak duduk sebagai Dubes RI untuk Aljazair pada 2008, Yuli yang biasa disapa pengusaha

lokal dengan sebutan Madam Saphira alias Ibu Duta Besar, terus melakukan road show dari pintu ke pintu untuk menemui dan berkenalan pengusaha sekaligus mengunjungi pabrik. Dengan model pendekatan seperti ini, para pengusaha dan organisasi pengusaha setempat selalu memenuhi dan memberikan proioritas atas setiap undangan jamuan makan ataupun pertemuan bisnis yang diadakan KBRI.

Saat pertemuan dengan Kadin Aljazair, semua pengusaha sangat akrab dengan Yuli tanpa batas birokrasi dan basa-basi protokoler. "Sebelum Madam Saphira datang ke sini [Aljazair] saya tidak pernah bisa menelepon langsung duta besar. Namun, sekarang kapanpun saya bicara menghubungi dia setiap saat saat memiliki urusan terutama soal bisnis. Ini tentu akan memudahkan urusan dagang pengusaha di kedua negara," ujar Leblalta Abdelfettah, Manager Impor Fouara 8 Mai 1945, sebuah perusahaan dagang di Alger.

Yuli mengaku memilih gaya seperti layaknya seorang pemasar (marketing) dengan sedikit bercampur gaya koboi- tanpa protokoler-karena pendekatan formal dinilai malah akan menjauhkan Indonesia dalam komunitas dagang dan industri di Aljazair. "Dubes itu harus bisa menjadi marketer for country."

Gaya seperti ini dilakukan karena diakuinya masih ada sejumlah masalah dan perbedaan kebiasaan bisnis yang harus dijembatani untuk meningkatkan perdagangan kedua negara. Dengan gaya yang tidak formal, diharapkan berbagai masalah akan lebih mudah dibereskan.

Menurut dia, walaupun sebagian pengusaha Aljazair sudah menggunakan sistem L/C dalam transaksi dagang antarnegara, masih banyak yang menggunakan sistem tradisional yakni membayar tunai (tebus dokumen) setelah barang tiba di pelabuhan setempat. Kebijakan Pemerintah Aljazair yang membatasi mata uang dinar keluar wilayah membuat seluruh transaksi L/C dilakukan dengan menggunakan bank asing (umumnya bank Prancis) karena regulasi di sini belum menerapkan sistem pembayaran di muka (payment in advance) sebelum barang tiba di pelabuhan.

Sistem ini menyulitkan eksportir Indonesia yang merasa tidak mendapatkan jaminan atau kepastian pembayaran saat barang telah dikirim, terutama saat terjadi perubahan harga selama dalam pengapalan. Terlebih untuk komoditas kopi dan teh harganya fluktuatif mengikuti harga internasional. Selain itu, juga ada kendala bahasa. Di Aljazair seluruh aktivitas bisnis menggunakan bahasa Prancis dan Arab termasuk penerbitan dokumen ekspor-impor. Bahasa Inggris belum banyak dipakai para pebisnis di sini.

Namun, saat ini Pemerintah Aljazair secara perlahan mulai membuat sejumlah peraturan baru untuk mengadopsi sistem transaksi dan perdagangan yang berlaku intenasional.

"Jika pebisnis kita bisa secepatnya masuk pasar Aljazair, maka pada saat nanti negara ini semakin terbuka perdagangannya, maka dunia usaha Indonesia sudah Iebih dahulu dikenal pebisnis di sini. Adalah tugas saya untuk lebih mendekatkan para pebisnis kedua negara," ujarnya. (ckaindnn@bisnls.co.id)

Kembali ke Halaman Utamal

Conception  |  Mentions légales  | Nous contacter© 2008 Ambassade d'Indonésie en Algérie,Tous droits réservés.