Senin, 26 September 2011 pukul 14:51:00
Bershalawat di Tlemcen
Lewat nasyid, tari pi ring, zafin, dan saman, Indonesia memper kenalkan keragaman seni budaya Islam nusantara.
Oleh Teguh Setawan
Dijajaran kursi depan ruang Abdelkrim Dali, Pa lais de la Culture, seorang ibu terlena dalam diam. Ma tanya menatap lurus ke arah panggung ketika ke lompok nasyid Justice Voi ce melantunkan “Tombo Ati”. Di sekeli -lingnya, perempuan dan lelaki yang lebih muda mengikuti irama lagu dengan anggukan kepala. Sedangkan, anak-anak mereka meningkahi dengan tepuk tangan.
Suasana sedikit berubah ketika Justice Voice melantunkan shalawat. Si ibu ikut bernyanyi. Beberapa lainnya juga seperti tergerak untuk mengikuti. Namun, di salah satu sudut ruangan, seorang nenek lebih suka terdiam mencermati kalimat shalawat yang dilantunkan. “Saya merinding mendengar mereka bernyanyi,” ujar si ibu kepada Rohimul Amin, staf Kedubes RI di Aljazair, beberapa saat setelah pertunjukan usai. “Kalian berasal dari negara yang tidak menggunakan bahasa Arab, tapi bisa melantunkan shalawat dengan baik.”
Itulah kesan pertama yang diperoleh Rombongan Kesenian Islam Indonesia dalam kunjungannya ke Festival Budaya Tlemcen; Ibu Kota Kebudayaan Islam 2011. Selain kelompok nasyid Justice Voice, Indonesia memeriahkan festival dengan tari-tarian bernapas Islam; saman, zafin, tari piring, dan beberapa tarian tradisional lainnya.
Galeri Nasional menggelar pameran seni rupa bertema “Horizon of Light” di salah satu ruang Palais de la Culture. Pameran mengetengahkan karya 25 perupa, di antaranya Abbas Alibasyah, AD Pirous, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rahman, Amri Yahya, Jubair, Fajar Sidik, Nashar, Oesman Effendi, Popo Iskandar Rusli, Said Akram, Setiawan Sabana, Srihadi Soedarsono, Sunaryo, Syaiful Adnan, Tisna Sanjaya, Umi Dachlan, Widayat, Yusuf Affendi, dan Zaini.
Ada pula pemutaran dua film bertema Islam: “Ketika Cinta Bertasbih” dan “Emak Ingin Naik Haji”. Sayangnya, film tidak sempat diberi subtitle Arab, tapi bahasa Inggris. Sedangkan penduduk Aljazair menggunakan dua bahasa: Arab dan Prancis. Seluruh kegiatan—pergelaran nasyid, tari, dan pameran seni rupaberlangsung empat hari mulai 7 sampai 10 September. Acara dibuka Abdelhamid Belblidia, koordinator umum Festival Budaya Tlemcen Kementerian Kebudayaan Aljazair.
Indonesia adalah satu dari 29 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang diundang ke festival. Beberapa negara non-OKI, seperti Polandia, Republik Rakyat Cina (RRC), India, Prancis, dan Amerika Serikat (AS), juga berperan serta dalam festival ini. Polandia, misalnya, menggelar pameran foto masyarakat Muslim Tatar. Semula Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Indonesia yang akan mengirim rombongan kesenian ke festival ini. Kemen budpar membatalkan ketika waktu kebe rangkatan be be rapa pekan lagi.
Tidak diketahui apa penyebab pembatalan itu. Faris Thalib, salah satu personel Justice Voice, tidak memperoleh penjelasan apa pun. Namun, beredar kabar pembatalan disebabkan anggaran yang diajukan Menbudpar tidak disetujui DPR. Yuli Mumpuni, mantan duta besar RI untuk Aljazair yang kini menjabat staf ahli Menlu, mengambil alih upaya pengiriman delegasi Indonesia ke Festival Tlemcen. Ia menggandeng PT Pertamina dan PT Wijaya Karya untuk menyukseskan pengiriman ini.
“Pengiriman tidak boleh gagal karena pergelaran kesenian Indonesia sudah terjadwal,” ujar Yuli Mumpuni kepada Republika. Upaya itu tidak sia-sia. Indonesia akhirnya me -ngirim duta keseniannya ke Tlemcen, yang terdiri atas delapan penari plus koreografer Aty Ganda, Justice Voice yang beranggotakan lima orang plus satu manajer pertunjukan, dan Idhi Prabawanto sebagai pemain flute.
Kecuali Idi Prabawanto yang membawa flute, tidak ada alat musik lain yang dibawa rombongan kecil ini. Delapan penari berlenggak-lenggok di atas panggung dengan iringan minus one. Kelompok nasyid juga menggunakan minus one untuk beberapa lagu dan membawakan beberapa lagu lainnya dengan teknik akapela.
Representasi seni Islam
Indonesia memiliki banyak kesenian bernapaskan Islam, mulai dari yang tradisional sampai modern. Tari piring, zafin, dan saman adalah yang paling representatif karena berasal dari wilayah etnis yang kental dengan keislaman, yaitu Padang, Melayu, dan Aceh.
Justice Voice yang mengusung subtitle From Indonesia With Shalawat adalah representasi musik modern sebagai media dakwah yang marak di Indo nesia sejak 1980-an. Gaya akapela, meski berasal dari seni musik Barat, dianggap cocok karena nasyid adalah musik dengan iringan perkusi. Di Indonesia, nasyid berkembang sede mi ki an rupa. Jika awalnya hanya menyanyikan la gu-lagu berbahasa Arab, kini banyak kelompok nasyid menyenandungkan lagu dalam ba hasa Indonesia dan Jawa. Bahkan, Justice Voi ce menggunakan bahasa Inggris dalam beberapa lagunya. Salah satunya “Save Our Masjid”.
Pilihan mengusung nasyid ke Tlemcen memang tidak keliru. Masyarakat Aljazair yang mayoritas Muslim mengenal nasyid dengan baik. Namun, mereka relatif awam terhadap perkembangan nasyid di negara-negara berpenduduk Muslim lainnya.
Mereka melihat penggunaan teknik vokal Barat dalam membawakan lagu-lagu berbahasa Arab menjadikan nasyid lebih menarik. Itulah yang diperlihatkan Justice Voice selama empat kali tampil di Tlencem. “Thola’al Badru ‘Alaina”, lagu nasyid yang dikumandangkan saat kaum Muslim menyambut kedatangan Rasulullah di Madinah, diba wa kan dengan kombinasi suara latar yang menarik. Shalawat dan lagu-lagu berbahasa Arab lainnya juga dibawakan dengan cara sama. Ini memperlihatkan lagu-lagu nasyid tidak harus dinyanyikan sesuai aslinya, tapi dibawakan dengan teknik vokal yang terus berkembang.
Faris, meski mengalami kendala bahasa, cu kup komunikatif dengan penonton dari ber ba gai usia. Beberapa kali dengan mengguna kan ba hasa Inggris, dia mengajak penonton bernyanyi. Flutist Idhi Prabawanto berkomunikasi dengan caranya sendiri. Ia memainkan “Bunga di Tepi Jalan” dengan sangat indah serta berimprovisasi diiringi akapela. Idhi memiliki pendengarnya sendiri, terutama lelaki dewasa yang hadir dalam pertunjukan itu.
Apresiatif
Salah satu cara mengajak penonton mengapresiasi sebuah seni adalah dengan membe rikan informasi historis tentang sesuatu yang akan dipergelarkan. Itulah yang dilaku kan pa nitia sebelum tari saman, zafin, dan tari piring dipergelarkan. Di sisi lain, sebagai kota yang relatif jarang mendapatkan kunjungan masyarakat dari ber bagai be -lahan dunia, kostum penari saman, za fin, dan tari piring menjadi daya tarik sen diri bagi warga.
Masyarakat Tlemcen menikmati setiap tarian yang dipergelarkan dan memberikan aplaus bertubi-tubi. Pers Aljazair baik cetak maupun elektronik selalu hadir di ruang pertunjukan sejak hari pertama. Rohimul Amin mungkin orang yang paling sibuk menjawab pertanyaan sejumlah wartawan dalam bahasa Arab.
Komentarnya dikutip banyak koran dan wa jahnya menghiasi televisi Aljazair. Saat me nutup pemutaran film, Rohimul Amin sem pat mendapatkan pertanyaan mengapa film yang ditampilkan tidak dilengkapi subtitle bahasa Arab. “Mereka sangat menikmati film itu, tapi mengalami kendala bahasa. Mereka ingin subtitle bahasa Arab,” ujar Rohimul. “Yang bisa saya katakan adalah saya akan memasukan permintaan itu dalam laporan saya ke Jakarta.”
Liputan pers yang cukup luas pada hari per tama pergelaran cukup berpengaruh. Pada hari berikutnya dan puncaknya pada hari keempat, jumlah penonton di ruang Abdelkrim Dali kian terisi. Kebanyakan adalah keluarga—suami-istri dan anak-anak yang masih kecil generasi muda penggemar musik, serta generasi tua pecinta nasyid dan seni budaya Islam. Kebanyakan dari mereka hadir beberapa kali dengan apresiasi yang tinggi, lainnya hadir saat hari terakhir pertunjukan. Barangkali inilah duta kesenian Indonesia yang paling efisien, efektif, dan sukses.
Bukan Sekadar Kaligrafi
Seorang pengunjung pameran lukisan bertajuk “Horizon of Light: Islamic Collection of the Indo nesia National Gallery” bertanya kepada salah seorang karyawan Galeri Nasional Indonesia, “Apakah ini surah Yasin?” Tidak ada yang bisa memastikan. Kaligrafi abstrak karya salah satu pelukis kenamaan Indonesia itu memang sulit diterka. Namun, ada yang berani memastikan bahwa itu surah Yasin. “Alhamdulillah,” ujar pengunjung itu seraya pergi.
Itulah respons sederhana masyarakat pengunjung pameran lukisan “Horizon of Light” yang menampilkan 24 karya perupa Indonesia di Festival Tlemcen. Respons lainnya datang dari wartawan, yang lebih suka mencari pelukisnya ketimbang menikmati karya-karya yang dipamerkan. Rizki A Zaelani, kurator Galeri Nasional Indonesia yang selalu berada di depan ruang pameran, sebisa mungkin menjawab setiap pertanyaan dalam bahasa Inggris. Namun, pengunjung lebih suka berfoto di depan manekin yang mengenakan pakaian tradisional atau memainkan seperangkat alat musik tradisional Jawa.
Selama empat hari, pameran dikunjungi cukup banyak penikmat seni rupa di Tlemcen dan kota-kota lain di Aljazair. Namun, kebanyakan pengunjung lebih memerhatikan lukisan kaligrafi, bukan lukisan abstrak tanpa tulisan Arab. “Orang selalu beranggapan seni rupa Islami adalah kaligrafi.
Pokoknya, lukisan yang ada tulisan Arab-nya,” ujar Rizki. “Sebetulnya tidak demikian.” Pilihan terhadap lukisan, menurut Rizki, diupayakan merepresentasikan keragaman masyarakat Islam di Indonesia. Ia yakin, 25 lukisan yang dipamerkan di Festival Tlemcen telah cukup.
Lukisan Amri Yahya, Nashar, Umi Dachlan, atau Ahmad Sadali mungkin lebih banyak diperhatikan pengunjung. Sedangkan, karya-karya lain yang lebih abstrak cenderung terabaikan. Pengunjung tak ingin berkerut kening. Menurut Rizki, keikutsertaan Galeri Nasional di Festival Tlemcen amat penting. Timur Tengah dan kawasan Afrika Utara, katanya, adalah pasar bagi seni rupa Islam.
“Saya telah lama berupaya mengangkat seni rupa Islam dan ikut dalam berbagai pameran di Timur Tengah,” ujarnya. Namun, menurut Rizki, sejumlah perupa Indonesia tidak tertarik dengan label Islam. Alasannya, pelabelan—apalagi dengan nama agama—akan membuat pangsa pasar perupa semakin kecil. “Mereka takut ketika ikut dalam pameran seni rupa Islam, mereka kehilangan pasar. Bukankah kolektor mereka selama ini non-Muslim?”
Rizki menyayangkan, pameran di Tlemcen hanya berlangsung empat hari. Biasanya, pameran lukisan berlangsung dua pekan atau satu bulan. Dari situlah, bisa dilihat seberapa besar apresiasi masyarakat akan seni rupa.
<teguh setiawan> |