SEMANGAT BANDUNG MENGHANGATKAN PERINGATAN 55 TAHUN KAA BANDUNG DI ALGER, 24 – 29 MEI 2010
Bandung memang sangat dikenal di Aljazair. Bandung mempunyai tempat tersendiri dalam memori bangsa Aljazair karena Konperensi Asia – Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 merupakan mimbar internasional pertama yang mengumandangkan aspirasi rakyat Aljazair untuk merdeka. Oleh karena itu, bertepatan dengan peringatan 55 tahun KAA Bandung 1955 dan lima tahun KTT Asia – Afrika di Jakarta tahun 2005, KBRI Alger bekerjasama dengan Dit. Diplomasi Publik dan Museum KAA Bandung Kemlu RI serta Institut Diplomatik & Hubungan Interansional (IDRI) Kemlu Aljazair dan Pusat Arsip Nasional Aljazair telah menyelenggarakan Seminar dan Pameran Foto & Dokumen bertema “The Spirit of Bandung, Promising Perspectives” yang berlangsung di Pusat Arsip Nasional Aljazair tanggal 24 – 29 Mei 2010. Kedua kegiatan tsb dibuka oleh Menlu Aljazair, Bapak Mourad Medelci dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI, Dr. N. Hassan Wirajuda dan diikuti oleh para saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Aljazair, kalangan diplomat, akademisi dan jurnalis Aljazair.
Seminar yang dibagi dalam dua sesi tsb telah membahas aspek sejarah KAA Bandung 1955 dan perkembangan kerjasama Asia – Afrika, tantangan dan prospeknya. Dalam pidato penyambutan, Dirjen Pusat Arsip Nasional Aljazair, Abdelmadjid Chikhi antara lain menyatakan bangga bahwa Gedung Pusat Arsip Nasional Aljazair telah dipilih sebagai tempat penyelenggaraan dua kegiatan Peringatan KAA yang mempunyai arti sangat penting bagi bangsa Aljazair. Sejak KAA Bandung 1955, rakyat Aljazair sering mendengar mengenai Bandung dan Indonesia yang telah berjasa dalam mendukung perjuangan bangsa Aljazair. Dirjen IDRI, Dr. Noureddine Bardad-Daidj telah menyampaikan penghargaan kepada Kemlu RI dan KBRI Alger atas inisiatif penyelenggaraan Seminar dan Pameran Foto & Dokumen. Pihaknya menilai penting KAA Bandung 1955 sebagai awal dimulainya diplomasi Aljazair dalam perjuangan kemerdekaan.
Dalam pidato pembukaan, Menlu Mourad Medelci antara lain menyampaikan pentingnya Dasa Sila Bandung sebagai referensi untuk memperkokoh kerjasama Selatan-Selatan, dan memperkuat tuntutan yang selalu disuarakan Aljazair mengenai demokratisasi hubungan internasional dan upaya pencapaian perdamaian dan keamanan internasional. Dinyatakan pula bahwa prinsip-prinsip Bandung tetap relevan dan dapat dijadikan sebagai pijakan dan sandaran bagi Negara-negara berkembang dalam menghadapi arus globalisasi. KAA Bandung bukan peristiwa yang biasa melainkan peristiwa yang sangat penting yang telah mempercepat kemerdekaan Negara-negara yang pada tahun 1955 masih di bawah penjajahan, diantaranya Aljazair. Dalam Konperensi tsb Aljazair berhasil menyuarakan isyu nasional kepada masyarakat internasional dan akhirnya didukung tanpa ragu-ragu oleh seluruh delegasi Asia – Afrika.
Sementara itu Dr. Hassan Wirajuda menyatakan bahwa arti penting KAA Bandung antara lain adalah pengakuan internasional mengenai inalienable right of subjugated people to independence. Keberhasilan KAA Bandung dalam mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah di Asia dan Afrika terlihat pada jumlah Negara yang hadir dalam KTT Asia – Afrika tahun 2005 yang mencapai 106 Negara, dibandingkan waktu KAA Bandung tahun 1955 yang baru dihadiri oleh 29 negara. Selain itu juga ditekankan tentang pentingnya pelaksanaan butir-butir komitmen para Pemimpin Negara-negara di Asia dan Afrika yang tertuang dalam dokumen KTT Asia – Afrika 2005 yakni “The New Asia – Africa Strategic Partnership” (NAASP). Kerjasama antar kawasan di bawah kerangka NAASP diakui masih belum sepenuhnya terlaksana dan oleh karena itu Indonesia mendorong semua Negara di Asia dan Afrika termasuk Aljazair untuk menjadi model dari kerjasama antara dua kawasan yang terus berkembang tsb. Di Indonesia, komitmen tsb antara lain dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kerjasama pelatihan untuk peningkatan kapasitas warga Palestina dan kerjasama pelatihan telekomunikasi untuk ratusan teknisi Nigeria serta beberapa kegiatan lainnya di bidang infrastruktur, UKM & kredit mikro, otomotif, industri dan pariwisata.
Para panelis dalam Seminar tsb adalah mantan Menteri Kebudayaan & Dubes Aljazair di Jakarta Amb. Laarbi Demagh El Atrous, mantan Dubes Aljazair di Tripoli, Amb. Salih Benkobbi; Dr. Mohtar Mas’oed dari UGM Jogja; Prof. Moh. Lakhdar Maougal dari Univ. Alger; Dr. Pribadi Sutiono, Plh. Dir. Diplomasi Publik; Prof. Nadia Chetab dari Univ. Annaba; dan Dr. Darwis Khudori dari Univ. Le Havre.
Pameran Foto & Dokumen memamerkan 110 lembar foto KAA Bandung 1955 dan KTT Asia – Afrika 2005 koleksi Museum KAA Bandung dan dokumen bersejarah koleksi Pusat Arsip Nasional Aljazair seperti mulai dari perjuangan kemerdekaan bangsa Aljazair, khususnya di bidang diplomasi hingga partisipasi Aljazair dalam KTT GNB I di Beograd tahun 1961 hingga penyelenggaraan KTT GNB ke-4 di Alger tahun 1973.
Dubes RI – Alger, Yuli Mumpuni Widarso dalam keterangannya kepada TV Canal Algérie menyampaikan bahwa tujuan penyelenggaraan Seminar dan Pameran Foto & Dokumen antara lain adalah untuk memperkuat kembali “Semangat Bandung” dan bagaimana menterjemahkannya kedalam kegiatan kerjasama nyata Negara-negara Asia dan Afrika.
Keterangan foto:
1. Menlu Aljazair Mourad Medelci dan Dr. N. Hassan Wirajuda dalam acara pembukaan Seminar Memperingati 55 tahun KAA Bandung 1955 di Gedung Pusat Arsip Nasional Aljazair, Alger, tgl 24 Mei 2010.
2. Menlu Aljazair Mourad Medelci dan Dr. N. Hassan Wirajuda menyaksikan Pameran Foto & Dokumen Memperingati 55 tahun KAA Bandung 1955 di Gedung Pusat Arsip Nasional Aljazair Alger, tgl 24 Mei 2010.
Alger, 30 Mei 2010
|